16 Agustus 2010

Tjilik Riwut - Pahlawan "Tak" Dikenal

Sering kita mendengar Soekarno, atau pattimura (mungkin ini juga karena beliau menjadi gambar pada uang di negeri kita.

Mengapa harus mengenal? Hey tidakkah kau ingin tahu siapa - siapa saja orang yang telah merelakan waktu bersantainya, waktu tidurnya, waktu bersenda guraunya untuk sebuah pengabdian jiwa, raga dan pikiran. Merekalah, mereka yang disebut sebagai pahlawan, entah apapun yang telah mereka lakukan silahkan saja bandingkan dengan kita...Ya...Kita.
Lalu? Hey..saudaraku semua, tidakkah kalian tahu bahwa banyak yang telah mereka korbankan dalam memperjuangkan dan mempertahankan status bangsa di Nusantara menjadi Indonesia? Berapa banyak waktu atau hal yang kalian korbankan untuk organisasi kalian? Untuk kemerdekaankah? Untuk mencari jalan keluar dari belenggu bangsa lain? Hehe (lebay mode on)

Saya pun belum sepenuhnya mengenal mereka semua, ada saah satu yang saya akan perkenalkan kepada kalian, namanya Tjilik Riwut. Berikut kisahnya (diambil dari wikipedia indonesia).

Tjilik Riwut (lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918 – meninggal di Rumah Sakit Suaka Insan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987 pada umur 69 tahun) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal setelah dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit lever/hepatitis dalam usia 69 Tahun, dimakamkan di makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Tjilik Riwut yang dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai "orang hutan" karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah pencinta alam sejati juga sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia ia telah tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit.

Tjilik Riwut adalah salah satu putera Dayak yang menjadi KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampau batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998 merupakan wujud penghargaan atas perjuangan di masa kemerdekaan dan pengabdian membangun Kalimantan (Tengah).

Setelah dari Pulau Jawa untuk menuntut ilmu, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk, namun beliau tidak terjun. Nama-nama yang terjun merebut kalimantan adalah Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F. M. Suyoto, Bahrie, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Mika Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J. H. Darius, dan Marawi.

Rombongan-rombongan ekspedisi ke Kalimantan dari Jawa yang kemudian membentuk barisan perjuangan di daerah yang sangat luas ini. Mereka menghubungi berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan untuk menyatukan persepsi rakyat yang sudah bosan hidup di alam penjajahan sehingga bersama-sama dapat menggalang persatuan dan kesatuan.

Selain itu, Tjilik Riwut berjasa memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU yang diperingati setiap 17 Oktober. Waktu itu Pemerintah RI masih di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI. Pangkat Terakhir Tjilik Riwut adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Tjilik Riwut adalah salah seorang yang cukup berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putera Dayak ia telah mewakili 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat dihadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Sebagai tentara, pengalaman perangnya meliputi sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan. Dia pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagi anggota DPR RI.

Keterampilan dalam menulis diasahnya semasa dia bergabung dengan Sanusi Pane di Harian Pembangunan. Tjilik Riwut telah menulis sejumlah buku mengenai Kalimantan: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965,stensilan, dalam bahasa Dayak Ngaju), Kalimantan Membangun (1979).



6 komentar:

  1. SAYA BANGGA MENJADI PUTRA DAYAK...SAYA KAGUM DENGAN PARA PEJUANG KALIMANTAN...TERIMA KASIH ATAS JASA-JASA KALIAN..SAYA BERHARAP ADA PUTRA DAERAH YANG AKAN MENGERTI TENTANG KALIMANTAN TENGAH DAN MEMBANGUN KAMPUNG HALAMANKU...KALTENG TEMPAT LAHIRKU...TERIMA KASIH

    BalasHapus
  2. hanya berpamirh oleh yang maha pemberi pamrih ^^

    BalasHapus
  3. Terus berkarya. Sukses menanti.

    Salam hangat dari Yogya.

    BalasHapus
  4. terimakasih telah berbagi informasi

    BalasHapus

Fasilitas Komentar Gratis Yang Disediakan (Siapa Saja Boleh)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...