25 Juni 2010

ROBOT UNTUK MENGOPERASI JANTUNG (Robot Medis)




Penggunaan robot dalam proses operasi telah dimulai pada 1985. Ketika itu, robot bernama PUMA 560 dipakai untuk membantu meletakkan jarum untuk biopsi otak dengan menggunakan pemandu computer tomography (CT). Tiga tahun kemudian, Imperial College London mengembangkan PROBOT yang bisa digunakan untuk operasi prostat.
Ada pula ROBODOC yang diperkenalkan pada 1992. Robot itu "ahli" dalam mencari pasangan yang cocok untuk menggantikan tulang pinggang di femur. Perkembangan selanjutnya dari sistem robotik untuk membantu operasi di bidang medis dilakukan oleh Intuitive Surgical Inc.
Perusahaan yang memproduksi robot untuk operasi itu memperkenalkan sistem operasi da Vinci dan computer motion dengan AESOP (Automated Endoscopic System for Optimal Positioning) dan sistem operasi robotik ZEUS (ZEUS terdiri dari tiga meja-mount-satu lengan robot yang memegang endoskopi AESOP positioner, yang memberikan pandangan tentang bidang operasi internal, yang lain memegang alat bedah). Sistem operasi bypass langsung arteri koroner dengan invasif minimal (minimall invasive direct coronary artery bypass/MIDCAB) serta bypass arteri koroner endoskopi (totally endoscopic coronary artery bypass/TECAB) dilakukan dengan sistem da Vinci. Perbaikan katup jantung juga dilakukan dengan sistem yang sama.


Dr W Randolph Chitwood dari Universitas East Carolina, Greenville, Dr Douglas A Murphy dari Rumah Sakit (RS) Saint Joseph, Atlanta, serta Dr J Michael Smith dari RS Good Samaritan, Cincinnati, telah memopulerkan prosedur itu dan membuktikan kemampuan robot dalam membantu operasi jantung.
Sementara itu, Dr Sudir Srivastava dari Universitas Chicago, Amerika Serikat (AS), telah melakukan prosedur TECAB (Totally Endoscopic Coronary Artery Bypass) beberapa kali, dan diperkenalkan kepada publik di AS pada 30 April 2008.
Diperkirakan sekitar 70 dari 90 RS yang ada di AS telah menggunakan robot untuk operasi invasif minimal. Saat ini, ada tiga jenis operasi jantung yang menggunakan sistem operasi robotik.
Operasi pertama adalah operasi perbaikan kerusakan trial septal. Operasi itu memperbaiki lubang antara dua ruang atas jantung.
Operasi kedua adalah perbaikan mitral valve atau perbaikan katup yang menghalangi darah untuk menendang kembali ke ruang atas jantung selama kontraksi.
Operasi ketiga adalah coronary artery bypass atau bypass arteri koroner yang mengubah arah suplai darah dengan membuat jalur alternatif untuk arteri yang tersumbat yang menyediakan darah untuk jantung.

Tiga Komponen Khusus mengenai sistem Da Vinci, ada tiga komponen yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem itu.
Pertama, sebuah perangkat pengatur yang digunakan oleh operator (ahli bedah).
Kedua, robot bertangan empat yang ditempatkan di sebelah pasien, satu tangan untuk mengendalikan kamera, dan tiga tangan lainnya untuk memanipulasi peralatan operasi.
Komponen ketiga adalah sebuah sistem visual high definition tiga dimensi.

Peralatan operasi dilekatkan di tangan robot yang akan dimasukkan ke tubuh melalui kanula (sejenis pipa yang dimasukkan ke tubuh). Gerakan tangan ahli bedah diukur dan dipilih untuk mengeliminasi tremor tangan, kemudian diterjemahkan ke dalam gerakan mikro yang dimiliki peralatan tersebut.
Kamera yang digunakan dalam sistem memunyai gambar stereoskopik sebenarnya yang ditransimisikan ke perangkat ahli bedah. Sistem Da Vinci digunakan dalam 48.000 prosedur, termasuk operasi untuk kanker prostat, operasi pembuangan rahim, dan operasi memperbaiki katup jantung. Sistem itu digunakan di lebih dari 800 rumah sakit di AS dan Eropa.
Operasi robotik pertama yang menggunakan sistem Da Vinci dilakukan di RS Miami Valley, Dayton, Ohio, AS. Sistem operasi itu terbilang mahal, yakni sekitar 1,2 juta dollar AS atau sekitar 12 milliar rupiah.
Adapun sistem Da Vinci yang paling "gres" diluncurkan pada April 2009 dengan biaya sebesar 1,75 juta dollar AS atau setara dengan 17,5 miliar rupiah.
Dr Aulia Sani, seorang dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah dari RS Sahid Sahirman, Jakarta, menjelaskan meskipun sistem Da Vinci menggunakan robot, tetap saja yang mengoperasikan robot itu adalah dokter ahli.
Di Indonesia, sistem operasi jantung dengan menggunakan robot memang belum ada. Pasalnya, harga robot tersebut terbilang masih sangat mahal. Ada beberapa keuntungan yang didapatkan dari operasi jantung dengan bantuan robot. Keuntungan terbesarnya, sistem operasi itu menghasilkan sayatan yang sangat kecil sehingga pasien lebih cepat sembuh. "Rata-rata pasien bisa meninggalkan rumah sakit dalam waktu dua sampai lima hari, lebih cepat daripada cara tradisional yang bisa memakan waktu penyembuhan lebih dari satu minggu," kata Aulia yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Pusat Jantung Nasional Harapan Kita. Hal itu tidak saja menguntungkan pasien, tetapi juga bisa mengurangi tenaga yang dibutuhkan selama operasi, serta masa perawatan pasca-operasi yang lebih cepat. Alhasil, biaya yang harus dikeluarkan pasien pun menjadi lebih rendah.
Lebih lanjut, Aulia menerangkan mata robot yang digunakan untuk operasi memiliki penglihatan yang lebih tajam ketimbang mata dokter sehingga objek-objek yang sangat kecil bisa teramati dengan baik. Selain itu, mata robot yang dilengkapi dengan fasilitas zoom bisa memperbesar objek sehingga pengamatan pun menjadi lebih jelas.
Keuntungan lain dari operasi menggunakan robot adalah jahitan yang dilakukan oleh robot lebih halus karena robot tidak ada tremor. Luka sayatan bekas operasi pun sangat kecil, hanya sekitar 0,7 inci.
Berbeda halnya dengan sistem operasi tradisional yang disebut open heart surgery. Pada operasi itu, pembedah membuat sayatan sebesar 10 sampai 12 inci, kemudian mengakses jantung dengan memisahkan tulang dada (sternum) dan membuka tulang rusuk.
Pasien lantas dibaringkan di atas mesin. Paru-paru dan jantung berhenti berdetak sepanjang operasi. Cara tradisional seperti itu berisiko terhadap masuknya bakteri ke tubuh pasien sehingga bisa menyebabkan infeksi.
Selain itu, luka sayatan berpotensi menimbulkan rasa sakit dan proses penyembuhannya membutuhkan waktu lama.
Di samping memiliki kelebihan, sistem operasi jantung menggunakan robot mengandung kekurangan, terutama soal biaya. Empat tahun yang lalu saja, sistem operasi robotik itu bisa menghabiskan biaya 750 ribu sampai 1,2 juta dollar AS. Kebanyakan rumah sakit masih mempertimbangkan apakah perlu menghabiskan uang sebesar itu hanya untuk membeli sebuah robot.
Para ahli bedah melaporkan meskipun pabrik pembuat robot bedah jantung telah menyediakan pelatihan untuk pengaplikasian teknologi itu, hal tersebut dianggap belum cukup. Pasalnya, untuk benar-benar menguasai teknik operasi dengan menggunakan robot itu, para ahli bedah harus mempelajarinya dengan intensif. Selain itu, mereka harus mempraktikkannya kepada 12 sampai 18 pasien terlebih dahulu sampai mereka merasa nyaman dengan sistem itu.
Selama pelatihan, para ahli bedah bisa membutuhkan waktu dua kali lebih lama dibandingkan ketika menjalankan operasi jantung secara tradisional. Alhasil, masa pembiusan pasien pun menjadi lebih lama. Dengan melihat kekurangan-kekurangan dari sistem operasi robotik itu, tidak semua ahli bedah memercayai bahwa menggunakan robot adalah sistem terbaik dalam operasi. Banyak pula ahli bedah yang sudah puas dengan keberhasilan mereka menjalankan sistem operasi jantung tradisional.
(not/L-2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fasilitas Komentar Gratis Yang Disediakan (Siapa Saja Boleh)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...