20 Januari 2010

Memoar Awal Juli -



Senin, 1 Juli 2008


Pagi itu saya gelisah. Degup jantung ini terasa lebih cepat berdetak dan ngilu sekali. Sambil menggenggam tangan Mama yang penuh dengan darah dan pasir saya mencoba menahan air mata saya. Di ruangan UGD, sambil mencoba menghubungi Bapak yang sejak pagi sudah berangkat ke Kantor untuk memberitahukan bahwa Mama mengalami kecelakaan motor. Mama jatuh dari tempat boncengan. Entah pada kecepatan berapa, kulihat dengan tangan yang terseret hingga menimbulkan luka gores sampai bisa kulihat daging putih di pergelangan tangannya.

Pagi ini, saya bersiap berangkat kuliah. Namun telepon yang datang pagi itu sungguh tidak kuharapkan. Ami, adik laki – lakiku memberi tahu bahwa motor yang ia pakai untuk mengantar Mama ke Kantor tergelincir di fly over yang baru saja dibangun. Adikku tidak apa – apa, namun Mama jatuh dalam posisi terjengkang kebelakang dengan kepala jatuh terlebih dahulu. Helm murahan itu pun tak bisa melindungi tengkorak kepala Mama.

Di ruang UGD kulantunkan doa – doa yang saya tahu, Mama belum sadar, ia histeris sambil mengejangkan seluruh tubuhnya sambil berteriak. Ya Allah, luka – luka itu pasti sakit sekali, sampai – sampai Mama sama sekali tidak memberikan respon dari saya.

“Ma...Ma...ini Ulfah Ma, Mama bangun Ma..”,Saya memanggilnya dengan suara yang lembut, takut – taku membuat lukanya semakin terasa sakit sambil menggenggam tangan Mama dengan hati – hati. Ya Allah, tangan Mama terseret di aspal hingga terkikis. Pasti sakit sekali.

“Kulihat Nita, kakak perempuanku satu – satunya melakukan hal yang sama seperti kulakukan, air matanya jatuh. Adikku Ami, kulihat air mukanya sangat gelisah, sambil masih mencoba menghubungi Bapak. Teman – teman kantor Mama yang mengetahui kejadian ini pun berdatangan. Bu Tetty berdiri di sampingku sambil mengelus pundakku memberikan dukungan, kulihat air matanya mengalir dipipinya.

Mama, pakaian pegawai negerinya berlumuran darah dan berdebu. Jilbabnya sudah dibuka oleh petugas kesehatan. Kulihat kepala bagian belakangnya penuh dengan darah. Kulit kepalanya robek, tentu saja, helm yang digunakan Mama tidak cukup kuat hingga helm pun pecah.

Sambil terus membisikkan kalimat – kalimat lembut di dekat telinganya, “ Ma..Mama...ni Upa Ma...ayo Ma semangat Ma...liat Upa Ma...berdoa terus ya Ma...Allahuakbar! Allahuakbar!” Sambil mengendalikan emosi saya agar Mama tidak sedih.

Agak lama pelayanan Rumah Sakit ini, nampak sekitar hampir satu jam kemudian seorang suster dan petugas kesehatan membawa seperangkat alat jahit. Menurutnya,robekan di kulit kepala Mama harus dijahit untuk meminimalisir darah yang mengalir. Horden pun ditutup, sambil membantu membuka pakaian Mama, saya terus mengucap nama-Nya.


***


Mobil ambulan disiapkan karena Mama akan dipindahkan ke Rumah Sakit Bunda di Margonda yang memiliki fasilitas CT scan untuk memeriksa seberapa parah luka yang ada di kepalanya. Kulihat Mama sejak tadi belum sadar juga. Bahkan kata Ami, sejak jatuh tersungkur tadi, Mama langsung histeris seperti itu. Tiba – tiba dada saya sesak ketika ingat Mama tadi pagi yang menangis tanpa sebab sambil memakai pakaian kerjanya. Mama yang tergesa – gesa supaya tidak terlambat apel pagi itu langsung meminta diantarkan, biasanya Bapak yang mengantar. Namun karena Bapak sudah berangkat lebih pagi, akhirnya Ami yang menggantikan. Sejak dulu Mama benci naik motor, “Motor itu transportasi darat yang paling berbahaya”, kata Mama sebelum membelikan motor untuk adik saya. Ami memang mengidam – idamkan motor 4 tak itu. Apalagi kalau sudah mendengar suara motor yang bising, Mama akan bilang “ Et, berisik tahu!”, kata Mama spontan dengan gaya bicaranya yang khas seolah bilang kok-betah-banget-sih-punya-motor-suaranya-seperti-itu.

Kulihat Bapak berbicara dengan dokter, rumah sakit disini lebih cepat pelayanannya. Tempatnya pun lebih nyaman dari sebelumnya. Namun semuanya tidak bisa memberikan kenyamanan tentang bagaimana keadaan Mama sebenarnya. Kini kulihat Mama tampak tenang walaupun belum sadar juga. Mungkin ia tertidur karena sejak tadi ia meronta – ronta, teriak – teriak, Ya Allah, saya tidak ingin mengingatnya apalagi saat melihat jarum dan benang menyisiri kulit kepala Mama, karena itu membuat jantungku ngilu, mulutku kaku dan seluruh badanku bergetar.

Bapak kemudian memberi tahu bahwa Mama akan dibedah nanti sore. Bapak kemudian mengambil motornya bersama Nita pergi. Uang sebesar 20 Juta Rupiah harus ditransfer sebelum pukul 12.00 WIB, Bapak mencari pinjaman. Ya Allah, Saya tahu Engkau bersama kami, tepat disebelah Mama.

***

Awal Juni 2008

“Ma, kalau orang mau meninggal itu rasanya bagaimana sih?”, pertanyaan aneh itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Loh, memangnya kenapa?”, Mama balik bertanya dengan raut muka penasarannya

“Hmm , akhir – akhir ini perasaan dan batin Ulfah kok tidak tenang ya? Ulfah selalu dibayangi kematian? Orang meninggal, masa – masa kecil Ulfah, sedih rasanya”, Saya menjabarkan perasaan saya akhir – akhir ini, emosi saya menjadi tidak stabil. Setiap malam pasti menangis, rasanya sakit dan tidak tenang. Entahlah.

“Apa ya? Setahu Mama sih kalau orang yang mau meninggal itu sebenernya sudah tahu kalau dia akan meninggal sejak 40 hari sebelumnya, dia akan mengingat kembali masa lalunya, kenangan – kenangan masa kecilnya, seperti ada film kehidupan kita yang di putar dan ditampikan di benak kita, tapi orang yang mau meninggal itu tidak bisa memberi tahu orang lain akan hal itu, kalau dia akan mati”, entah teori dari mana jawaban yang Mama lontarkan tapi Saya mendengarkan serius, karena saya sudah tidak tahu lagi, saya bingung, saya sakit, saya cengeng perihal kematian yang menghantuiku. Jawaban Mama membuatku tenang seperti biasanya. Saya mencoba menciumnya, sudah bisa ditebak, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dan lepas dari pelukan Saya serta ciuman bertubi – tubi di pipinya. Haha ... Lucunya Mamaku.

***

Ludi Ramdani, nama yang agak janggal untuk seorang perempuan. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini dilahirkan dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya pegawai negeri dan Ibunya membantu menambahkan penghasilan dari usaha menjahit. Memiliki 5 adik tidak semudah kedengarannya, ia harus meyakinkan seluruh adiknya dalam kondisi kenyang dan bersih. Kakak laki – lakinya sibuk dengan urusan sekolahnya. Setiap akan bermain, Dani akan membawa 2 adik terkecilnya, Wita dan Dono. Bahkan dalam permainan lompat tali, Dani akan bermain sambil menggendong Dono. Kehidupan Dani jauh dari waktu senang – senang yang banyak.

Ia akan menuliskan pegawai negeri dalam pertanyaan pekerjaan di buku diary yang saat itu menjadi kebiasaan di sekolah. Untuk urusan pendamping hidup, Dani selalu bedoa kepada Allah agar diberikan jodoh yang sholeh yang bisa mengajarkan agama kepadanya, sebuah pelajaran yang tidak ia dapat dari kedua orang tuanya. Orang tuanya begitu sibuknya hingga Dani harus belajar sendiri bagaimana caranya sholat. Bahkan mengendap – endap karena Ayahnya begitu galak dan melarang Dani untuk tidak ‘main’ keluar.

Dani tidak pernah menuntut apa – apa. Setiap akan ada pelajaran renang setiap itu pula ia akan berjalan kaki menyusuri jalan raya dari Depok sampai Pasar Minggu. Jika sedang beruntung, biasanya ia akan mendapatkan uang ekstra jika ia mampir ke rumah Kakak Ibu. Tentu ia harus mengerjakan pekerjaan rumah, mengepel, menyapu, dan mencuci piring. Namun ini dilakukan diam – diam karena jika orang tuanya tahu ia mendapatkan uang dari Pakde, Dani akan mendapatkan pukulan dari Ayahnya. Ia tak mau Dani mengemis pada orang lain.

Setelah Lulus SMA, Ayahnya merekomendasikan ia di Departemen Perdagangan dan akhirnya Dani bekerja dengan status lulusan SMA. Setahun kemudian ia memilih menikah dengan Kosasih, sepupu jauhnya yang dikenalkan oleh kerabat dan saudara. Dani menikah di usianya yang menginjak 21 tahun, perkenalan yang begitu singkat namun ia percaya kepada rejeki yang selama ini diberikan oleh Allah.

***

Kehidupan Mama setelah menikah tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Harapan akan menjalani kehidupan yang damai dan dengan penuh suka cita tidak bisa ia dapatkan begitu saja. Memang, doanya telah terkabul dengan mendapatkan pasangan yang taat beribadah bahkan Bapak mengajarkan dengan sabar bagaimana membaca Alquran. Namun ternyata masih banyak masalah lain.

Mama yang sejak awal pernikahan tidak pernah akur dengan pihak keluarga Bapak membuat Mama stres berat. Yang kuingat, saat itu berat badan Mama turun drastis dari sebelumnya. Mama yang sekarang adalah Mama yang kurus. Tulang pipinya bisa kulihat jelas.

Entah perbedaan kultur atau apa, Nampaknya sangat sulit untuk menggabungkan keluarga kami. Saya ingat, Mama pernah hutang di bank untuk membeli sebuah rumah karena lelah dengan omongan yang menyakitkan kati selama lebih dari lima tahun. Dianggap parasit karena gajinya yang kecil. Hutang dalam jumlah besar yang akhirnya menjadi rumah yang menjadi tempat tinggalku hingga saat ini.

Penderitaan kami pun bertambah sejak krisis moneter, kami harus pindah ke Brebes. Awalnya Mama tidak mau tapi karena masalah di kantornya yang parah memberi motivasi kuat untuk tinggal di rumah kontrakan kecil di Jatibarang, Brebes. Cibiran dan sindiran mewarnai hari – hari kami, biasanya Mama akan menangis dan mengaji sambil meneteskan air mata. Bapak yang tidak ikut tinggal di Jawa karena saat proses pindahan ternyata mendapatkan kerjaan baru melengkapi suasana sepi dan mengerikan. Kecelakaan Ami menjadi klimaks kesabaran Mama, setelah tertabrak dari sepeda yang baru saja dibeli oleh sebuah truk pengangkut tebu, Ami dirawat selama sebulan karena mengalami patah kaki yang parah. Saat itu ia duduk di kelas 3 SD. Gaji yang pas – pasan, suami yang jauh dengan gaji yang kecil, hamil tua, 3 anak lain yang harus diurusi, biaya rumah sakit yang mahal, cibiran dan sindiran saudara, dikhianati teman kantor, benjolan di payudara, dan masalah lainnya membuat saya takjub betapa tabahnya Mama menghadapi semua masalah itu.

Kekuatan amacam apa yang ada padamu Ma?, saat semua ibu berbelanja di Mal – Mal besar, kau hanya terus meyakinkan kami untuk makan lauk seadanya. Disaat hari – hari libur, kau mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci pakaianmu sendiri dan memilih untuk tidur seharian karena pekerjaan yang menuntut waktu yang tidak sedikit. Adakah bahagia dalam hidupmu? Jika ku bertanya kau hanya berkata “ Yang penting anak – anak Mama sehat dan jadi orang sukses”, Apa? Mana waktu untuk dirimu sendiri Ma? Mana waktu untuk memanjakan dirimu? Mana?.

***

Mama sama sekali belum sadar sejak kecelakaan 4 hari lalu, Saya menemaninya setiap hari, tidur di ruang tunggu karena saya ingin menjadi orang pertama yang tahu jika Mama sadar. Setiap pagi saya akan menemani Mama dimandikan dan diberi sarapan, hanya susu.

Rambutnya kini sudah dipangkas habis, bekas jahitannya berbentuk segitiga di kepala sebelah kanan belakang. Luka – luka ditangannya pun kini sudah mengering berwarna kehitaman. Peralatan yang selama ini hanya bisa kulihat didalam film-film kini tepat didepan mataku. Banyak sekali peralatannya, selang di hidung dan mulutnya, ahh..sakit sekali. Saya menyapanya, “Halo Mama, eh Mama udah bangun belum ya? Mama kuat, Mama pasti bisa melewati semuanya, Ayo dong Ma usaha lagi, buka matanya..” Sambil kupegang matanya, kuusap pipinya, kata dokter, Mama meski mama tidak sadar, alat pendengaran mama berfungsi. Saya membacakan Al-fatihah berulangkali di sebelahnya. Ya Allah, Mama terlihat cantik seperti biasa.

Saya memang masih belum membolehkan adik perempuanku, Bano, untuk melihat keadaan Mama. Saya khawatir ia akan shock berat, untungnya ketika saya tawarkan untuk bertemu, Bano menjawab “Nanti Bano temui Mama jika Mama sudah sadar saja ya mba upa!”, Dasar anak kecil.

“Ini...ini...anaknya bu Ludi ya?” tanya seorang perempuan yang datang untuk menjenguk Mama sambil menangis terisak – isak.

“Iya, ini siapa ya?” tanyaku

“Ini saya yang jual jus di depan kantor Bu Ludi, Ya Allah mba, saya kaget sekali bu Ludi kecelakaan, Bu Ludi itu baik sekali, selalu beli jus dan suka memberi uang sama saya mba”, kata perempuan itu sambil menyalami dan memeluk sama, kulihat matanya berair.

Mama memang suka memberi uang, padahal ia sendiri masih kekurangan. Apalagi jika ada penjual – penjual yang menawarkan barang kepadanya, sering kali ia membeli padahal Mama tidak membutuhkan. Sampai – sampai, selalu ada perempuan tua ke rumah kami setiap minggu untuk meminta uang. Padahal sungguh, untuk kebutuhan kami saja Mama sering hutang.

***

Jumat, 11 Juli 2008

Malam ini terasa sepi sekali, di Rumah Sakit, untuk pertama kalinya kami semua berkumpul sekeluarga. Bapak, Nita, Ami, Majid, Bano dan Saya. Setelah beberapa jam sebelumnya selalu ada orang – orang yang menjenguk tiada habisnya. Malam ini berarti malam ke 11 Mama belum sadarkan diri. Mama sudah dua hari ini menggunakan alat bantu nafas. Kami tidak peduli berapa banyak uang yang kami keluarkan, yang terpenting Mama mendapatkan yang terbaik

Bapak sejak kemarin terlihat murung, sesekali ia mengeluarkan air matanya dalam doa - doanya. Bahkan tadi saat menjadi imam sholat Maghrib, suara Bapak terputus karena ia menangis dalam sholatnya. Ini pertama kalinya Saya melihat Bapak menangis seumur hidup saya.

Sebelum kerabat keluarga kami berpamitan pulang, Mbah Bapak, Ayah dari Bapak Saya menitipkan pesan “Sih, Kamu ya sekarang berserah sama Allah, jika memang ini belum waktunya, semoga Allah segera sadarkan Dani, namun jika memang sudah waktunya, segera angkatlah ia, kamu semua ya harus ikhlas dulu supaya Dani-nya tidak tersiksa”, begitu pesan Mbah yang Bapak ceritakan pada kami.

Tiba – tiba suster keluar dari ruang HCU, saat itu hanya ada saya dan teman saya di Ruang Tunggu. “Mba,ini ada yang mau bacain AlQuran tidak? atau berdoa untuk Bu Dani, Bapaknya mana?”, pertanyaan tergesa- gesa itu mengagetkan Saya, entah antara percaya atau tidak saya mengira Mama sadarkan diri namun setelah saya melihat langsung ternyata dugaan Saya salah. Mama kritis! Mama kritis!. Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada kami semua, Kulihat adikku yang berumur 8 tahun itu melihat kebingungan sambil memeluk Bapak, Ami tak kuasa membendung air matanya, ia tersungkur sujud memohon kuasa-Nya. Bapak membacakan Yasiin begitu pula dengan Nita dan Majid.

Saya mengajak Bano keluar ruangan dan membohonginya kalau Mama hari ini akan pulang. Ia melompat kegirangan. Andai ia tahu. Namun ketika melihat bendera kuning di gang rumah kami, ia tiba – tiba memelukku. “Bano sudah tahu, Bano sudah tahu...!”, ia menunduk dalam gendongan Saya sambil meneteskan air matanya.


***


Hidup bagaikan air…

Tenang, sejuk dan memberi rasa tenteram dan damai

Selasa, 8 april 2007

Pulang Kerja, Pukul 16.00 WIB


Kepalaku sakit, sudah ku pijat-pijat dengan minyak tawon, namun masih saja sakit. Disinilah aku melihat dosaku yang banyak dan besar yang benar-benar menghantam hatiku.


Mutiara-mutiaraku sedang apakah kau?

Mungkin aku adalah orang yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain ,orang tua, saudara dan anak-anaknya sendiri sehingga kau redup, hilang, hancur, bagaikan lilin yang rela berkorban hingga kehancuran menimpanya.


Setelah jam 10 malam, mataku pedih hingga aku bingung harus melakukan apa agar aku sehat dan bersemangat untuk mutiara-mutiaraku yang sampai kapan mereka dalam kebingungan dan kebimbangan yang semakin lelah aku melihatnya dan sedih kurasa.


Mutiaraku marilah kita berdoa agar kita semua masuk kedalam surga Allah SWT. Amin.


25 April 2007


Waktu menunjukkan jam 11.30 tiba-tiba aku terbangun dengan terdengarnya kegaduhan yang terjadi salah satu tanggunganku membuat hatiku kaget dan marah, aku tidak tahu mengapa dia melakukan itu, walaupun aku berusaha membiarkan dia melakukan sesuka hatinya dalam menjalani kehidupannya tapi malam itu sungguh dia membuat aku kaget dan bingung aku harus bagaimana?


26 April 2007


Aku pulang kerja, biasa rumahku penuh dengan kerjaan yang bagiku banyak. tapi yang penting aku siapkan makan untuk mereka-mereka yang menjadi tanggunganku. Tapi salah satu anakku membuat aku kesal hingga dia membentakku dengan suara sangat keras kepadaku. Allahuakbar. Aku diam, entah sampai kapan aku diam.


Apakah aku harus diam sampai aku mati? Tak ada yang tahu.


Ludi Ramdani

Kini Saya tahu Ma . . .

7 komentar:

  1. Ya Allah pay.. BAGUS. Tulisan ini mengingatkan segala kesalahan yang seharusnya tidah pernah saya lakukan terhadap kedua orangtua saya, karna tak ada yg tau rencana ALLAH SWT di detik kedepan.

    "Innalillahi wa innalillahi rojiun, semoga mama Upay di berikan tempat terbaik disisi ALLAH SWT dan keluarga diberikan kekuatan untuk menjalani hari-hari kedepan. Amin.."

    with love,
    zura

    BalasHapus
  2. Pay...
    gw baru tahu...
    sedih banget bacanya...


    Shin.

    BalasHapus
  3. Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^

    BalasHapus
  4. subhanallah..berkaca-kaca aku membacanya silmina...
    aku juga mengalami, mama ditabrak lari, rusuk patah 6 kaki patah 3, tapi sampai mama sekarang alhamdulillah sudah agak sembuh pun... belum berhasil membuatku mampu menuliskannya..
    kau gadis kuat dan berani...
    btw, kubantu kirimkan ke mbak asma nadia ya, kemaren dia bilang ama ku lagi nyari naskah kayak gini... kutunggu di galuh.chrysanti@gmail.com yaa...
    kata mbak asma syaratnya cuma satu, ngga boleh nanya terbitnya kapan hehe.. sama sekalian minta biodata, siapa tau bener2 naik cetak di buku beliau. amiin.
    semoga Mama silmina bahagia di sisiNya. seluruh keluarga diberikan kekuatan, dan ganti atas kesabaran yang tiada terkira. amiin..
    btw, alurnya bagus banget... dirimu sebetulnya sudah penulis :)

    BalasHapus
  5. aduh aduh ngiung2 maluu ... alhamdulillah mba Galuh hehehe

    ini sebetulnya udah masuk di salah satu buku , tapi akau sendiri belum beli, kaya di kumpulan cerita gitu de, ikutan lomba . . .

    jadi semangat "serius" nulis lagi mba

    thx yaa spirit nyaa ^^

    BalasHapus

Fasilitas Komentar Gratis Yang Disediakan (Siapa Saja Boleh)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...