04 Desember 2009

Berpikir Lebih Terbuka

Kan tiap orang beda - beda
Pikiran orang beda - beda

Padahal tiap manusia diberikan kesempatan yang sama, peluang yang sama. Saya heran masih saja ada orang yang beranggapan seolah (iya-gue-kan-beda-ama-lo), hey..ini bukan tentang beda atau tidaknya, namun ini tentang sesuatu, ini tentang kemauan. Tentang sesuatu yang ada didalam diri tentang sebuah tekad yang kuat. Saya jadi teringat tentang seorang teman yang selalu iri pada saya karena saya medapatkan beasiswa. Jika dilihat kebelakang, untuk info saja, saya bukanlah siswa yang selalu mendapatkan rangking di kelas sejak SD. Saya adalah siswa pendiam dan pemalu yang tidak menyukai matematika atau semacamnya. Saya merasakan ketakutan yang hebat saat saya dihadapkan pada soal - soal yang melibatkan otak kiri saya. Saya tidak bisa menghitung cepat bahkan dalam soal cerita, saya butuh membaca berulang - ulang kali. Dan pada mata pelajaran lainnya, saya selalu kebingungan jika mulai belajar bahasa ingris atau bahasa sunda. Yang saya sukai hanya pelajaran olahraga dan suling.

Menginjak SMP, saya makin takut dengan matematika (mungkin ini traumatik akibat pelajaran matematika yang diberikan oleh Bapak saya saat selalu saja tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan olehnya). Menginjak semester pertama matematika saya merah, saya juga merasa minder karena saya adalah murid pindahan dari sebuah SD di jatibarang di Brebes. Saya adalah murid tidak populer yang serba pas-pasan. Bahkan untuk megikuti kegiatan ekstrakulikuler, saya ragu karena beberapa diantaranya membutuhkan uang. Akhinya kegiatan paskibra saya hanya melalui tahap pertama saja karena saya merasa terasingkan karena pembina toh akan mencari murid-murid yang selalu didampingi oleh keluarganya saat latihan dan memberikan uang 'ekstra'.

Begitu pula saat saya mengikuti ekskul basket, dengan pengorbanan penyisihan uang jajan saya, itu artinya hari tanpa makan di sekolah dan saya lebih memilih untuk duduk di perpustakaan. (Hey, itu pertama kali saya membaca buku inspiratif berjudul Jamin dan Johan). Saya tergolong bisa untuk basket, bahkan dalam pelajaran olahraga, Pak guru pernah menyuruh saya untuk mencontohkan Lay Up, padahal jelas - jelas dikelas saya ada siswa yang selalu mengikuti kompetisi yang saya sendiri belum pernah dipilih, karena saya tidak populer. Pemilihan untuk peserta kompetisi biasanya dipilih secara subjektif oleh para alumni, dan seperti biasanya pula, pada saat hari pemilihan akan ada banyak "peserta yang vakum" untuk tampil, ya bisa ditebak, mereka yang 'populer' akan dengan mudahnya terpilih karena kenal atau cantik (versi SMP).

Setelah tingkat akhir SMP, barulah saya mengikuti ekskul silat, pada saat itu berkumpullah orang - orang tidak populer, mana ada orang populer berkotor - kotor ria? Karena tidak ada cowok populer, itu dia. Namun saya nyaman sekali, baru perama kalinya saya merasa dianggap. Disini saya belajar banyak tentang HIDUP. Bahkan tentang Patih Gajah Mada yang banyak dibicarakan buku sejarah sebagai pahlawan, ya menurut pikiran saya beliau adalah penjajah sejati. Entahlah, disini pikiran saya menjadi terbuka, sehingga saya lebih mudah untuk menentukan mana hal yang baik buat saya. Semuanya itu baru saya dapatkan ditahun akhir SMP, yakni saat usia saya menginjak 14 tahun. Dan Saya bersyukur sekali untuk itu.

Dengan penutan filosofi parfum pada saat itu, Saya akhirnya bisa melanjutkan di SMA populer. Bukan karena Saya ingin populer, tapi karena dekat dari rumah. Saya sangat tidak beranggapan kalau hebat itu jika ranking 1 atau jika banyak pria yang menyukaimu. Tapi ini adalah hidup yang diberikan oleh Tuhan kepada Saya. Saya bangga menjadi bagian itu. Saya mencari apa yang membuat bibir ini tersenyum. Yang membuat mata ini berbinar. Yang membuat dada ini berdebar. Yang membuat hati ini tenang. 'What a life!'.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fasilitas Komentar Gratis Yang Disediakan (Siapa Saja Boleh)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...