27 November 2009

Jikalah pada akhirnya . . .


Kawan, pernahkah kau merasakan sebuah penderitaan yang sangat? Barangkali rasanya seperti ingin mati saja, ya! Seperti apa sih, rasanya ditinggal oleh seseorang yang kita cintai? Mungkin kita akan meratap berhari - hari, mengenang masa - masa bersamanya dan berharap semua telah berlalu kembali lagi, berangan andai mereka tak pernah pergi.

Kawan, bagaimana rasanya diliputi benci dan kemarahan? Ah, seperti mau meledak dada kepala. Inginnya memuntahkan segala kekesalan sepuas - puasnya. kawan, pasti kita pernah gagal, saat itu, rasanya dunia sudah tertutup bagi kita. Tak ada lagi semangat apalagi tekad. Kita pun mandeg, malas untuk bergerak lagi. Kawan, semua kita pernah berbuat dosa. Sering kita sadar dan menyesal, tapi kita sanggup keluar dari padanya.

Kawan, aku percaya, ketika waktu berjalan dan semua itu berlalu, engkau akan melihat dengan pandangan berbeda. Bisa jadi, engkau mersakan penderitaanmu dulu tidak sehebat engkau kira. Masih banyak orang lain yag lebih menderita. Mungkin saja engkau melihat kemarahan dan kebencianmu tidaklah belum ada apa - apanya. Barangkali kesalahan dan dosa itu akan membuat kita bisa melihat dan menghayati kebenaran.

Kawan, seiring waktu berjalan, pikiran kita tumbuh. Perasaan kita berubah. Jika demikian halnya, mengapa kita biarkan diri tenggelam sedangkan ia akan menjadi masa lalu pada akhirnya.

Jikalah Derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa, sedang ketegaran akan lebih dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah apa - apa.


Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti tenggelam didalamnya, sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti menjadi ingin kukuhi sendiri, sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti membusung dada, sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia.


Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama. Sedang memberi akan lebih memiliki arti.


Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti dirasakan sendiri, sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa diisi dengan kesia - siaan belaka, sedang begitu banyak kebaikkan bisa dicipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fasilitas Komentar Gratis Yang Disediakan (Siapa Saja Boleh)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...