23 November 2009

For You

Ini tulisan untuk orang yang baru saja membuat orang tuanya terdiam, dan mulai berfikir untuk pergi dari rumahnya.

Seketika sang ayah tak kuasa meredam amarah kepada sang anak, anak yang paling diperhatikannya, anak yang dibanggakannya dengan kepintarannya, dengan pemahaman hakikat namun belakangan ternyata teori dan aplikasi adalah 1 : 50, 50 untuk teori, dan 1 untuk aplikasi (bahkan saya tidak tahu ini angka 0 atau 1 seharusnya). Seorang anak yang tergolong tinggi untuk IQ nya, namun nol untuk yang lainnya mulai berfikir jika kuliah dan pengetahuan ia dapat dari apa yang ia baca adalah sesuatu yang harus menjadi prioritas utama dalam kesehariannya. Jadi untuk kepedulian antar lingkungan mungkin ia berfikir bukan sesuatu yang menjadi bagian dalam hidupnya. Tidak sadar bahwa akibat kebiasaan dia telah merusak ekosistem untuk anggota keluarga yang lainnya. Seolah sikap individualis semakin meradang di alam bawah sadarnya. Ia tidak sadar bahwa dengan kebiasaannya dia telah membuat anggota yang lainnya tersinggung, tentu saja karena merasa dianggap sebagai orang yang harus mengerjakan pekerjaan akibat ulahnya. (baca : pembantu).

Apa yang membuat kau berani melakukannya, sebelumnya dengan sadar saya mengakui bahwa saya pun juga pernah membuat orang tua saya merasa sakit hati dan merasa tidak dianggap. Tapi percaya atau tidak, saya ini sangat sayang kepada mereka, bahkan dalam beberapa hal, seringkali saya menyisipkan nama mereka dalam doa - doa saya. Namun kali ini berbeda, orang tua ini merasa sakit yang dalam, bahkan sulit baginya untuk mengeluarkan air mata. Terakhir, air mata yang saya lihat ketika istrinya tiada.

Mengenai sang istri, ia meninggal dunia dengan sebab yang jelas, yaitu kecelakaan pada saat dibonceng motor oleh si anak tadi. Bukannya mau menyalahkan, yang saya tahu sang istri ini paling takut untuk dibonceng motor, bahkan 40 km/jam adalah kecepatan maksimal baginya. Terakhir saya bonceng, jarum speedometer selalu berada sebelum angka 40. Dengan motor dengan cc yang besar itu ia mengantarkan, entahlah apa yang ada dibenaknya saat mengantar yang kuyakin memang si istri ini sangat ketakutan (itu yang kurasakan pada saat itu), mendapat kabar seperti itu saya pun tidak terlalu terkejut karena memang dulu pun pernah si istri ini jatuh dengan motor yang lainnya.

Perasaan bersalah, itu pasti yang terngiang di dalam hati dan kepalanya, bagaimana tidak, ia tidak menyangka sang istri ini langsung tidak sadar hingga 11 hari.

Setiap hari saya merasa malu untuk meminta uang kepada bapak, saya yang berumur 20 namun belum mandiri secara finansial. Saya sangat berterima kasih karena bapak belum lelah untuk bekerja, saya bersyukur Engkau memberikan tempat yang tidak terlalu menguras tenaga bapak seperti kuli bangunan atau kuli panggul. Hidup sederhana membuatku sadar bahwa Eat, pray and Love kian nyata.

Sadarlah dengan yang kau perjuangkan atas nama intelektualitas itu telah mengikis norma - norma. Bagaimanapun juga, paling tidak anggaplah orang tuamu sebagai manusia, Toleransi. Angap lah ada orang yang rela menyisihkan uangnya untuk keperluan anda sehari - hari.

Jika saya bertanya, "Bagaimana jika ada orang yang dengan senang hati bekerja dan membagi penghasilannya setiap hari kepada anda?", tentu anda akan merasa hormat bukan terhadap mereka?, jangankan korupsi, bahkan ia ingin anda merasa cukup, bahkan mengenyampingkan segala kesenangannya dan menjadikan pekerjaannya sebagai rutinitas yang anda anggap sebagai tanggung jawab mereka. Jika begitu adanya, Anda tidak lain adalah sebagai penghianat, tidak heran ada peribahasa "air susu dibalas dengan air tuba".

Penjilat saat suasana tenang
dan menjadi berdebah disaat yang tidak tepat

Saya brengsek, namun progres menuju kuadran positif kian mendekat


3 komentar:

Fasilitas Komentar Gratis Yang Disediakan (Siapa Saja Boleh)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...