26 Agustus 2009

Formalitas

Sekilas Aku memandang akta kelahiranku yang sudah nampak kecoklatan, masih bertanya - tanya tentang bagaimana bisa Bapak menamakan ku demikian tidak biasa, Emilia Fernandes. Aku bukan orang Amerika Latin bukan pula seorang Bazillian. Yang aku tahu, Aku adalah perempuan berumur 18 tahun yang lahir dan besar di tanah Jawa. Bapak pun masih menyimpan keris peninggalan Mbah kakung dikamarnya. Ibu pun seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di kantor pos, dan dia pun asli Demak.

"Emilia Feernnandes . . .!" panggilan terbata - bata keluar dari mulut seorang wanita berjilbab yang agak kesulitan menyebutkan namaku. Seketika Aku bangkit menuju meja wanita berjilbab. Emil menatap aneh penampilan wanita tersebut, dengan jilbab merah yang diselampirkan kelehernya dan baju merah yang senada dengan jilbabnya membuatnya tampak seperti Hety Koes Endang, penyanyi favorit Ibu.

"Bukti pembayarannya mana?" Dia meminta bukti pembayaran uang bangunan yang kemarin baru kubayar. Kusodorkan kertas bukti itu, kulihat dijari tangannya cincin - cincin emas putih, dan emas kuning, kuhitung, ah kurasa terlalu berlebihan jika 3 cincin dipakai sekaligus.

Kulihat ia segera mengecek kertas yang kuberikan tadi dan segera menuliskan namaku di form pemesanan seragam. Mahal sekali, pikirku, Seperempat gaji ibuku dihabiskan hanya untuk seragam?, ah itu artinya seminggu ibu bekerja. Bagaimana dengan temanku Ani? Ayahnya hanya pengumpul plastik dan kertas untuk dijual lagi. Sama saja sebulan tanpa makan, dengan 2 orang adik yang masih balita. Padahal Ani termasuk anak yang cerdas, dia bahkan bisa perjumlahan puluhan ribu tanpa menggunakan kertas. Dia juga kreatif, terakhir dia membuat frame foto dari kardus dan kain perca untuk dijual di bazaar sekolah.

"Ya, sudah mba, ini jangan sampai hilang kwitansi nya", ibu itu menyerahkan kwitansi. Huhhff... formalitas saja ternyata pengukuran badannya, hanya sebatas lingkar dada, dan pinggang. Yah mana mungkin sekolah membuat ratusan pakaian dengan ukuran yang presisi setiap anaknya.

Sambil menuju tempat selanjutnya, yaitu Danau dekat rumah Pak Setyo, Seorang Lelaki 53 tahun yang mempunyai tambak lele sejak saya masih kecil. Tujuannya?...Sudah jelas untuk meminjam kamera DSLR Nikon 40D, satu - satunya orang yang mau meminjamkan kameranya pada saya karena dulu, Bapak pernah menyelamatkan nyawa anaknya dengan membawa Tito ke Rumah Sakit karena ditabrak mobil pengangkut sayuran saat Tito berumur 10 tahun, pada saat itu Bapak sedang mengantarku ke sekolah. Tito mengendarai sepedanya dan berusaha untuk meyeberang jalan untuk ke Sekolah namun dengan kecepatan sekitar 80 km sebuah mobil melaju untuk mengejar lampu hijau yang masih menyala. Namun sayang ketika itu seharusnya mobil itu berhenti dan terlambat untuk mengerem. Kini Tito berumur 15 tahun dan sudah kembali normal.

Pa Setyo sebetulnya adalah orang Jakarta asli yang memilih untuk menetap disini, kota yang penuh dengan orang - orang yang kebanyakan pemudanya tidak memiliki gairah untuk sekolah di pendidikan formal.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fasilitas Komentar Gratis Yang Disediakan (Siapa Saja Boleh)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...